Sabtu, 25 Juni 2011

Kisah yang terlupakan Edisi II


PERANG BUBAT
Perang Bubat  adalah perang yang kemungkinan pernah terjadi pada masa pemerintahan raja Majapahit, Hayam Wuruk dengan Mahapatih Gajah Mada. Persitiwa ini melibatkan Mahapatih Gajah Mada dengan Prabu Maharaja Linggabuana dari Kerajaan Sunda di Pesanggrahan Bubat pada abad ke-14 di sekitar tahun 1360 M. Sumber-sumber tertua yang bisa dijadikan rujukan mengenai adanya perang ini terutama adalah Kidung Sunda dan Kidung Sundayana yang berasal dari Bali.
Rencana pernikahan
Peristiwa Perang Bubat diawali dari niat Prabu Hayam Wuruk yang ingin memperistri putri Dyah Pitaloka Citraresmi dari Negeri Sunda. Konon ketertarikan Hayam Wuruk terhadap putri tersebut karena beredarnya lukisan sang putri di Majapahit, yang dilukis secara diam-diam oleh seorang seniman pada masa itu, bernama Sungging Prabangkara.
Namun catatan sejarah Pajajaran yang ditulis Saleh Danasasmita dan Naskah Perang Bubat yang ditulis Yoseph Iskandar menyebutkan bahwa niat pernikahan itu adalah untuk mempererat tali persaudaraan yang telah lama putus antara Majapahit dan Sunda. Raden Wijaya yang menjadi pendiri kerajaan Majapahit, dianggap keturunan Sunda dari Dyah Lembu Tal dan suaminya yaitu Rakeyan Jayadarma, raja kerajaan Sunda. Hal ini juga tercatat dalam Pustaka Rajyatajya i Bhumi Nusantara parwa II sarga 3. Dalam Babad Tanah Jawi, Raden Wijaya disebut pula dengan nama Jaka Susuruh dari Pajajaran. Meskipun demikian, catatan sejarah Pajajaran tersebut dianggap lemah kebenarannya, terutama karena nama Dyah Lembu Tal adalah nama laki-laki.
Hayam Wuruk memutuskan untuk memperistri Dyah Pitaloka. Atas restu dari keluarga kerajaan, Hayam Wuruk mengirimkan surat kehormatan kepada Maharaja Linggabuana untuk melamarnya. Upacara pernikahan dilangsungkan di Majapahit. Pihak dewan kerajaan Negeri Sunda sendiri sebenarnya keberatan, terutama Mangkubuminya yaitu Hyang Bunisora Suradipati. Ini karena menurut adat yang berlaku di Nusantara pada saat itu, tidak lazim pihak pengantin perempuan datang kepada pihak pengantin lelaki. Selain itu ada dugaan bahwa hal tersebut adalah jebakan diplomatik Majapahit yang saat itu sedang melebarkan kekuasaannya, diantaranya dengan cara menguasai Kerajaan Dompu di Nusa Tenggara.
Linggabuana memutuskan untuk tetap berangkat ke Majapahit, karena rasa persaudaraan yang sudah ada dari garis leluhur dua negara tersebut. Berangkatlah Linggabuana bersama rombongan Sunda ke Majapahit, dan diterima serta ditempatkan di Pesanggrahan Bubat.
Salah Paham
Melihat Raja Sunda datang ke Bubat beserta permaisuri dan putri Dyah Pitaloka dengan diiringi sedikit prajurit, maka timbul niat lain dari Mahapatih Gajah Mada yaitu untuk menguasai Kerajaan Sunda, sebab untuk memenuhi Sumpah Palapa yang dibuatnya tersebut, maka dari seluruh kerajaan di Nusantara yang sudah ditaklukkan hanya kerajaan sundalah yang belum dikuasai Majapahit. Dengan maksud tersebut dibuatlah alasan oleh Gajah Mada yang menganggap bahwa kedatangan rombongan Sunda di Pesanggrahan Bubat sebagai bentuk penyerahan diri Kerajaan Sunda kepada Majapahit, sesuai dengan Sumpah Palapa yang pernah ia ucapkan pada masa sebelum Hayam Wuruk naik tahta. Ia mendesak Hayam Wuruk untuk menerima Dyah Pitaloka bukan sebagai pengantin, tetapi sebagai tanda takluk Negeri Sunda dan mengakui superioritas Majapahit atas Sunda di Nusantara. Hayam Wuruk sendiri menurut Kidung Sundayana disebutkan bimbang atas permasalah tersebut, karena Gajah Mada adalah Mahapatih yang diandalkan Majapahit pada saat itu.
Gugurnya rombongan Sunda
Kemudian terjadi insiden perselisihan antara utusan Linggabuana dengan Gajah Mada. Perselisihan ini diakhiri dengan dimaki-makinya Gajah Mada oleh utusan Negeri Sunda yang terkejut bahwa kedatangan mereka hanya untuk memberikan tanda takluk dan mengakui superioritas Majapahit, bukan karena undangan sebelumnya. Namun Gajah Mada tetap dalam posisi semula.
Belum lagi Hayam Wuruk memberikan putusannya, Gajah Mada sudah mengerahkan pasukannya (Bhayangkara) yang tidak terhitung jumlahnya ke Pesanggrahan Bubat dan mengancam Linggabuana untuk mengakui superioritas Majapahit. Demi mempertahankan kehormatan sebagai ksatria Sunda, Linggabuana menolak tekanan itu. Terjadilah peperangan yang tidak seimbang antara Gajah Mada dengan pasukannya yang berjumlah besar, melawan Linggabuana dengan pasukan pengawal kerajaan (Balamati) yang berjumlah kecil serta para pejabat dan menteri kerajaan yang ikut dalam kunjungan itu. Peristiwa itu berakhir dengan gugurnya Linggabuana, para menteri dan pejabat kerajaan Sunda, serta putri Dyah Pitaloka.
Hayam Wuruk menyesalkan tindakan ini dan mengirimkan utusan (darmadyaksa) dari Bali - yang saat itu berada di Majapahit untuk menyaksikan pernikahan antara Hayam Wuruk dan Dyah Pitaloka - untuk menyampaikan permohonan maaf kepada Mangkubumi Hyang Bunisora Suradipati yang menjadi pejabat sementara raja Negeri Sunda, serta menyampaikan bahwa semua peristiwa ini akan dimuat dalam Kidung Sunda atau Kidung Sundayana (di Bali dikenal sebagai Geguritan Sunda) agar diambil hikmahnya.
Akibat peristiwa Bubat ini, dikatakan dalam catatan tersebut bahwa hubungan Hayam Wuruk dengan Gajah Mada menjadi renggang. Gajah Mada sendiri tetap menjabat Mahapatih sampai wafatnya (1364). Akibat peristiwa ini pula, di kalangan kerabat Negeri Sunda diberlakukan peraturan esti larangan ti kaluaran, yang isinya diantaranya tidak boleh menikah dari luar lingkungan kerabat Sunda, atau sebagian lagi mengatakan tidak boleh menikah dengan pihak timur negeri Sunda (Majapahit).
Perasaan Hati Wirayuda Terhadap Dyah Ayu Pitaloka
Hingga fajar menyingsing, Wirayuda belum bisa memicingkan matanya. Entah mengapa, hatinya tiba-tiba terbelit gelisah. Sesekali wajahnya menengadah, menatap atap kamar yang temaram.  Kilatan cahaya obor yang tertancap ditembok batu terpantul di bola matanya yang redup. Tarikan nafasnya begitu dalam. Walaupun lirih, tapi terdengar menggemuruh didalam dadanya. seperti karang yang diterjang ombak di Pantai Selatan Jawa. Hari ini, adalah hari yang istimewa sepanjang sejarah. Perjalanan panjang rombongan Kerajaan Sunda ke Tanah Majapahit  akan membuat cerita indah, cerita untuk dikisahkan lagi kepada anak cucunya kelak, dituliskan oleh para pujangga pada kitab-kitab dan dilantunkan dalam kawih.
Masih terbayang rentetan kejadian kemarin ...
Rombongan dari Kerajaan Sunda disambut hangat oleh rombongan penjemput di Tegal Bubat. Satu demi satu, rangkaian upacara berjalan dengan lancar. Upacara penjemputan dipimpin langsung oleh Mahapatih Gajahmada secara hidmat. Patih Kerajaan Majapahit yang berbadan tinggi besar,
gempal dan wajahnya kelam. Senyumnya bahkan tak kentara, namun kharismanya sungguh terasa. Siapa nyana, hari itu semuanya bisa melihat wajah Sang Mahapatih yang terkenal diseluruh Nusantara. Namanya telah menggetarkan seluruh kerajaan-kerajaan bahkan sampai Tiongkok dengan sumpah amukti Palapanya.
Tiga pengasuh yang berkebaya merah duduk bersimpuh dibelakang Dyah Ayu Pitaloka yang berbalut kebaya berwarna putih, berkain coklat lereng dan rambut yang hitam legam mengkilat disanggul dengan hiasan untaian bunga melati. Sebuah Patrem, berwarna kuning keemasan pemberian sang paman Mahapatih Bunisora Suradipati ditancapkan pada sanggulnya. Indah. Wajahnya berseri-seri walaupun semalaman hampir tidak tertidur. Kegelisahan diwajahnya tak lagi nampak pada wajahnya yang cantik bercahaya. Dan semua orang yang melihatnya terpesona.
Sejenak, Mahapatih Gajahmada menatap wajah ayu Dyah Pitaloka. Dyah Ayu Pitaloka pun tersenyum manis sambil mengangguk kepada Mahapatih Gajahmada. Wajah yang pernah ia lihat pada lukisan yang dibuat oleh utusan kerajaan Majapahit beberapa masa silam, setelah melihat lukisan Dyah Ayu Pitaloka akhirnya Prabu Hayam Wuruk memutuskan untuk meminangnya menjadi pendampingnya. Wajah inilah yang menjadi impian Raja-nya, tapi sekaligus menghentikan impiannya untuk menaklukan kerajaan Sunda. Sumpah Amukti Palapanya belum terlaksana dengan sempurna.
Pandangannya kemudian beralih pada Prabu Linggabuana. Raja Kerajaan Sunda, yang bila dirunut dari sejarah, masih ada kaitan kekeluargaan dengan rajanya sendiri. Tapi pengabdian dan kecintaan kepada Raja-nya masih mengalahkan ambisinya untuk menguasai Kerajaan Sunda. Gajahmada cuma bisa mengeluh dalam hati. Sesaat, Patih Gajah Mada dan Prabu Linggabuana beradu pandang.
Namun Gajahmada segera memalingkan tatapannya ke arah para prajurit yang tengah mempersiapkan keberangkatan rombongan menuju Keraton Majapahit. Dengan gemulai, Dyah Ayu Pitaloka menaiki satu demi satu tangga kereta kencana. Ditemani oleh tiga orang pengasuhnya, Dyah Pitaloka lalu duduk diatas bantal empuk bertilam sutra warna merah, beralas permadani tebal dan wangi melati yang merebak segar. Selepas itu,
Kereta kencana bersepuh emas yang ditarik oleh enam ekor kuda berwarna putih itu berjalan dengan perlahan. Rodanya berderak melindas batu-batu jalanan. Didepan kereta kencana, dua baris pasukan berkuda membuka jalan. Beberapa prajurit berjalan disamping pasukan berkuda, mengusung bendera kerajaan yang berkibar-kibar diterpa angin.
Diikuti dibelakangnya, kereta yang ditumpangi Maha Prabu Linggabuana, diiringi para prajurit Belamati kerajaan Sunda dan para prajurit dari Kerajaan Majapahit. Sepanjang perjalanan, di sebelah kiri dan kanan jalan, rakyat Majapahit berjejer. Tua muda, laki-laki dan perempuan berdiri sembari melambaikan tangan tak henti-hentinya ke arah iring-iringan. Sebagian
ikut berjalan, semuanya turut bergembira menyambut kedatangan calon permaisuri kerajaan mereka. Matahari semakin tinggi ketika memasuki Trowulan, kotaraja Majapahit. Arak-arakan semakin panjang. Sepanjang harapan mereka meretas masa depan. Orang-orang yang menonton tidak hanya berdiri dipinggir jalan, tapi turut mengiringi sampai alun-alun kerajaan.
Diatas kudanya, kegelisahan Wirayuda luruh dan pasrah. Tugasnya mengiringi Maha Prabu Linggabuana dan putrinya Dyah Ayu Pitaloka Citraresmi ke kerajaan Majapahit untuk dipersunting oleh Maharaja Hayam Wuruk hampir selesai. Semua petunjuk dari Mahapatih Kerajaan Sunda, Bunisora Suradipati serta Kepala Pasukan belamati Rakean Mantri Usus telah dilaksanakan dengan sebaik-baiknya. Walaupun dalam hatinya seringkali bertanya, bahkan mungkin seluruh rakyat kerajaan Sunda pun bertanya-tanya, mengapa calon pengantin perempuan yang harus ngadeuheus ke tempat calon mempelai laki-laki? bukannya calon mempelai laki-laki yang seharusnya datang menjemput calon pengantin perempuan ? Bahkan hingga akhirnya seorang Prabu Linggabuana pun harus melanggar adat karuhun Sunda?
Namun pertanyaan-pertanyaan itu tidak pernah terlontar. Tersimpan dalam hatinya rapat-rapat. Bahkan pada Patih Bunisora pun pertanyaan itu tidak pernah terlontar. Wirayuda memang sangat menaruh hormat pada Patih Bunisora. Bukan saja karena sang Patih telah menyelamatkan nyawanya ketika dirinya terseret banjir bandang, namun sang Patih pula lah yang membesarkan dan mendidiknya hingga akhirnya sekarang menempati jabatan Mantri Patih di Kerajaan Sunda. Begitu pula kepada Dyah Pitaloka, Putri Sunda yang cantik, yang sering ia temui di Padepokan Patih Bunisora, setiap kali menatap wajahnya, hatinya selalu tergetar. Tapi rasa hormatnya melebihi apa yang berkobar dalam hatinya. Tapi, tiba-tiba ada yang sakit direlung hatinya. Saat melihat Dyah Pitaloka turun dari kereta kencana, kemudian berjalan menuju Keraton Wilwatikta, ia merasa kehilangan.
Dan hari ini, akhirnya..
Sri Nata Rajasanagara Maharaja Hayam Wuruk duduk bersanding dengan Dyah Pitaloka Ratna Citraresmi.  Raja Muda yang berwibawa, Raja Negeri Majapahit Wilwatikta berpasangan dengan Putri cantik Kerajaan Sunda. Wajahnya yang tampan tak henti menebar senyum.  Sesekali menoleh kepada Dyah Pitaloka lalu menatapnya sambil tersenyum. Wajah yang selama ini menjadi impiannya kini hadir, nyata dan menjadi miliknya. Begitu cantiknya hingga legenda kecantikan Pradnyaparamita Kendedes pun pupus. Sementara Dyah Pitaloka tak lagi bisa menggambarkan betapa hatinya begitu berbunga-bunga. Teringat sang Ibundanya, pamannya Mahapatih Bunisora juga Niskala adik lelakinya di Keraton Surawisesa. Ingin rasanya membagi kebahagiaan ini bersama mereka. Ingin memeluk dan bercerita pada Ibundanya yang lembut,
pada pamannya yang begitu perhatian serta adiknya yang paling disayanginya.
Di sebelahnya duduk Sang Prabu Maharaja Linggabuana, Ayahanda Dyah Pitaloka. Kegembiraan nampak pada wajahnya yang letih, namun ada sebersit kebanggaan yang berpendar dalam hatinya.  Disebelah kanannya duduk Sri Ratu Tribuana Tunggadewi, Ibunda Prabu Hayam Wuruk. Wajahnya berseri-seri. Putra yang menjadi harapan negrinya yang besar, akhirnya mendapatkan pasangan yang sepadan. Para dayang tak henti henti mengipasi sang mempelai dengan kipas bulu.
Para tamu dari seluruh penjuru Negri berdatangan satu demi satu mengucapkan selamat,  bahkan utusan dari kerajaan-kerajaan diluar Dwipantara. Lalu duduk bersimpuh dipalataran pelaminan sambil menikmati hidangan yang lezat yang seolah tak henti hentinya mengalir.
Di luar Keraton, pesta untuk rakyat juga digelar. Seluruh rakyat berdatangan dan berkumpul di seluruh penjuru alun-alun bahkan diluar komplek Keraton. Pagar Keraton yang tebal dan kokoh, kini terlihat begitu indah.
Tak terlihat sosok Mahapatih Gajahmada. Tak seorangpun juga menanyakannya. Bahkan Sang Prabu Hayam Wuruk pun seolah melupakannya. Tanpa disadari oleh semua orang yang ada di keraton, digudang persenjataan Mahapatih Gajahmada tengah mempersiapkan senjata, dia melumuri kerisnya dengan racun dan ditemani oleh beberapa prajurit majapahit, para prajuritnya pun tampak kebingungan dengan perbuatan mahapatihnya, tetapi tidak ada satupun prajurit yang berani menanyakan untuk apa keris mahapatih Gajahmada dilumuri dengan racun.
Dipojok ruangan, sambil bersila, Mantri Patih Wirayuda bersandar pada tiang pilar keraton. Matanya sesekali menatap dari kejauhan wajah Dyah Pitaloka yang berseri. Dari tadi tak secuilpun makanan yang disentuhnya. Cuma hatinya yang banyak berkata-kata. Dadanya gemetar. Hatinya pun tergetar. Setelah mengangguk kepada kepala pasukan dan beberapa rekannya, Wirayuda bangkit. Lalu dengan terhuyung, sambil memegang gagang kujang yang diselipkan dipinggangnya, Wirayuda melangkah keluar Keraton dan ia pun melihat ke langit.
Dengan lirih, sambil sedih Wirayuda melantunkan kawih;
"Aku juga manusiaaaa!!! punya rasa, punya hatiiii, jangan samakan dengan kujang yang sakti!!!! Sungguh teganya dirimu teganya, teganya, teganya, teganyaaaaa!!!!".
Rupanya Wirayuda menyimpan perasaan yang sangat kuat terhadap Dyah Ayu Pitaloka, tetapi sebagai mantri patih padjajaran ia pun tetap harus menimbun perasaan itu dalam dadanya. Karena tetap Putri raja yang harus selalu ia hormati.

Adipatih Jaka Buana Sinatrya Padjajaran dan Dewi Rana Wangi Senopati Majapahit
Malam yang tenang di Padang bubat nan lapang. Rembulan bersinar penuh di langit nan gelap. Telanjang, tanpa awan. Membuka hatinya, agar kerlip bintang malam menghibur mata naif manusia. Begitu tenang, dan indah. Tanpa bau anyir darah.
Desau angin menerpa sesosok siluet tubuh. Sebilah keris yang terselip rapi dan rompi keprajuritan menyiratkan ketegasan prinsip. Wajahnya yang manis seolah memantulkan segenap cahaya rembulan.
Tiba-tiba desau angin yang sepoi-sepoi berubah menjadi sedikit lebih kencang. Lebih dingin menggigit. Lebih tidak bersahabat. Beberapa potongan ilalang mulai beterbangan. Sosok yang tadi berjalan tenang kini mempercepat langkahnya.
Dan kemudian tubuhnya seolah melayang bersama angin. Sebuah keahlian yang hanya dimiliki oleh prajurit-prajurit khusus dimasa itu.
Perlahan. Seringan bulu, sosok tadi mengambang. Dan perlahan turun disebuah bangunan penanda tapal batas.
Cahaya rembulan, sebagai satunya-satunya anugrah penerangan ditempat itu menerpa wajahnya. Sesosok ksatria wanita dengan seragam militer Imperium Majapahit, negara penakluk separuh Asia Tenggara.
Perlahan, sosoknya kembali tersembunyi kegelapan malam. Keberadaan dirinya seolah hilang ditelan alam.
"Sepertinya alam disini sudah merasakan kegetiran yang esok bakal terjadi..." suara seorang pria muda. Lirih, nyaris tersapu desau dedaunan. "Dinda Rana Wangi...".
Rana Wangi mendatangi sumber suara itu. Seorang pria muda yang tegap, dibalut busana hitam-hitam. "Kang Mas Jaka Buana..." sapa Rana Wangi dengan cara yang sama, lirih nyaris tersapu angin.
Hening sejenak. Seolah saling mengkonfirmasi kebenaran masing-masing. Dan perlahan, keberadaan keduanya menghilang. Seolah lenyap ditelan bumi.
Ajian Saptapratala, ilmu yang memungkinkan penggunanya hidup, makan dan bergerak didasar bumi. Sebuah teknik yang sangat langka. Hanya segelintir pendekar militer yang memilikinya, baik dari pihak Majapahit, maupun Pasundan.
"Manusia adalah makhluk yang menulis jalannya sejarah..," Jaka Buana membuka pembicaraan. ".. ironinya, perubahan arus zaman, wolak-walik-e zaman, keberadaan manusia seolah hanyalah sekadar pion catur." Jaka Buana menghela nafasnya.
Rana Wangi menatap Jaka Buana dengan pandangan pilu. Sesaat, dan dia memalingkan wajahnya. "Sungguh tak kusangka Imperial Majapahit mengambil keputusan seperti ini." Rana Wangi duduk bersila.
Jaka Buana menghela nafasnya kembali. Seolah beban berat tak kunjung hilang dari pundaknya. "Tak kusangka, Sumpah Palapa yang dulu terdengar begitu heroik kini menjadi sumber nestapa...".
"Lamun huwus kalah nusantara isun amukti palapa, lamun kalah ring Gurun, ring Seran, Tanjung Pura, ring Haru, ring Pahang, Dompo, ring Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, samana isun amukti palapa", senandung Rana Wangi terasa begitu menyayat.
"Dinda Rana Wangi, ada perkembangan terbaru apa dari sisi Hyang Prabu Hayam Wuruk dan Hyang Patih Amangkubhumi, Gajahmada ?" tanya Jaka Buana dengan lirih.
Rana Wangi menggeleng lemah. "Prabu Hayam Wuruk masih tetap berkenan meminang Gusti Dyah Pitaloka. Sementara Hyang Patih Amangkubumi... menganggap.. bahwa Gusti Dyah Pitaloka, adalah upeti dari Pasundan ... kepada Majapahit" isak Rana Wangi.
"Sumpah Palapa,... Hyang Patih Amangkubumi termakan idealismenya sendiri.." komentar Jaka Buana datar. ".. dan Pasundan terlalu naif memandang ambisi kekuasaan Hyang Patih Amangkubumi".
Sejenak dunia terasa hening. Diatas permukaan tanah sana, hanya desiran angin yang masih terasa.
"Aku akan menjadi perisai hidup bagi Paduka Prabu Linggabuana... esok" kata Jaka Buana datar.
Tiba-tiba, sembari terisak, Rana Wangi menubruk tubuh Jaka Buana,"Jangan Kakangmas...bagaimana nasibku kalau Kakangmas menjadi tumbalnya!" Rana Wangi memeluk erat kekasihnya seakan dia takkan bisa melihat Jaka Buana lagi untuk selamanya.
Jaka Buana terpana... "Dinda Rana Wangi ...".
"Nggih Kakangmas...?" Rana Wangi menatap sejuk sosok pria rupawan di depannya.
"Bagaimana dengan Dinda ? bukankah Dinda juga harus berdiri sebagai Senopati Rajapatni disana ?" Jaka Buana menatap lembut Ranawangi. "Aku tak ingin melihatmu gugur dalam perang tak berarti ini. Lebih aku saja yang memilih berkalang tanah...".
"Tapi itu sudah tanggungjawabku Kakangmas....dan daripada melihatmu gugur, lebih baik aku yang menghadapi, aku tak mampu menghadapi kesedihan-kesedihan yang akan kualami andai engkau....ah..." Rana Wangi mendesah sambil menatap cakrawala di kejauhan.
"Kita sama-sama prajurit Dinda. Aku sinatriya Pasundan, dan dinda menjadi senopati Majapahit. Tak pernah kita duga bila akhirnya Majapahit berniat melumat Pasundan...".
Mahapatih Gajahmada VS Prabu Lingga Buana
Akhir-akhir ini saya galau dengan krisis identitas saya sebagai orang Sunda..dulu saya pikir pemikiran tentang kesukuan hanyalah bibit perpecahan bangsa ini..namun waktu mendidik saya bahwa budaya kesukuan lebih merupakan guide line dan identitas diri..
Sekarang ketika memasuki obrolan intelek bersama teman-teman, setelah mencecar pemerintahan dan moral bangsa, dengan senang hati saya akan menutup argumen saya dengan kalimat "Dasar orang Indonesia kelakuan...untung gue orang Sunda"
Kalimat penutup itu tentu bertentangan dengan kondisi kesukuan kita yang ternya didefinisikan oleh suku-suku lain sebagai, kampungan, bahasa yang norak, pemalas, korup(Jawa Barat adalah propinsi terkorup ke 2 setelah DKI), tukang kawin, suku pecundang yang kalah di perang bubat, dan berbagai stereotype lainnya yang menyakitkan untuk didengar, namun banyak orang Sunda sendiri ternyata meng iya kan!!
Kita terjebak dengan penokohan Kabayan yang seolah-olah itulah orang Sunda. Padahal cerita Kabayan the saga sebenarnya menurut penilaian saya lebih sebagai karya sastra satire(sindiran) kepada kondisi sosial saat ini, sama sekali bukan pendefinisian orang Sunda pada umumnya.
Kita sudah melangkah terlalu jauh hingga kita lupa akan kejayaan leluhur kita, dan meninggalkan nilai-nilai ke Sundaan. Mungkin kita semua sudah melihat film 300, tentang bagai mana 300 ksatria Sparta melawan invasi Persia berjumlah ribuan. Tapi kita lupa bahwa ada kisah menakjubkan yang lebih seru dari itu. Perang BUBAT.
Kita semua sudah tahu bagai mana kronologis perang bubat, yang kebanyakan ditulis kurang jujur. Setelah perang ini berakhir lebih sering dikatakan bahwa peradaban Sunda musnah dalam 1 hari. Dan betapa berjayanya Majapahit hari itu. Dan Pemerintah pun enggan memasukan kisah perang ini dalam buku pelajaran sejarah karena mungkin hal yang sensitif.
Sedikit hal yg kita harus tahu bahwa, kata Nusantara adalah visi Majapahit tentang mempersatukan semua wilayah Asia tenggara dibawah kekuasaan Majapahit. Dan kata visioner ini diangkat berlebihan oleh pemerintah saat ini, mereka lupa bahwa pada dasarnya visi "NUSANTARA" sesungguhnya tidak lebih dari bentuk imperialis(penjajahan) Majapahit. Yang mana tentu bertentangan dengan UUD 1945 yang menyatakan bahwa Indonesia menentang segala bentuk penjajahan!
Berdasarkan kidung pasundan yang ditulis sastrawan Bali yang menjadi saksi perang bubat, disitu di ungkapkan dialog antara Gajah Mada dan Lingga Buana (raja Pajajaran) yang sangat eksplisit dan sedikit "parental advisory". Saya tertawa ketika membanca tokoh Lingga Buana memaki-maki gajah mada(yang selama ini diagung-agung kan) dengan kata-kata kasar seperti "apakah kamu lupa ketika di Jipang prajuritmu kocar kacir dan meminta belas kasihan berteriak-teriak dan mati seperti monyet" atau kalimat ini, " kamu tak lebih dari tahi yang ditinggalkan oleh anjing". Dan tentu kita semua tahu bahwa akhirnya perang pecah dan Pajajaran kalah, yang kita tidak tahu adalah, bahwa pada perang Bubat itu, perbandingan pasukan Pajajaran dan Majapahit adalah 1: 10, Pajajaran hanya berjumlahkan kurang dari 100 orang dan majapahit 1000 lebih bersenjatakan lengkap. 100 orang tersebut sudah termasuk para istri patih2x pajajaran yang juga ikut berperang, bahkan putri Dyah Pitaloka pun dikatakan ikut berperang dan melukai gajah mada, setelah akhirnya di suruh pulang ke padepokan oleh ayahnya. Bukan kah kisah ini lebih mengagumkan dari 300???!!
O ya, dalam kidung Pasundan itu juga Prabu Lingga Buana mengatakan " Kita orang Sunda beda, kita bukan Nusantara". Memang pada saat itu satu2xnya kerajaan yang tak tertaklukan Majapahit hanya kerajaan Galuh dan Pajajaran. Pajajaran adalah kerajaan yang sangat kuat di darat namun sangat lemah di laut, yang menjadi pertanyaan saya, mengapa pajajaran tidak memiliki visi seperti "Nusantara" nya Majapahit?, Padahal itu hal yang mudah utk dilakukan oleh Pajajaran. Dalam hal ini saya menilai ini lah kearifan karuhun Sunda, bahwa kita harus dan akan bersatu atas dasar kebutuhan seperti halnya sumpah pemuda kemudian, bukan dibawah penaklukan seperti Nusantara.
Ketika kita melompat waktu ke cicit Lingga Buana, yaitu Sri Baduga, atau yg kita kenal dengan Prabu Siliwangi, penulis belanda berkomentar bahwa ini adalah masyarakat yang jujur.."they are true man", dimana pada pemerintahan Siliwangi kejayaan Pajajaran mencapai puncaknya. Beliau berhasil membentuk pemerintahan yang bersih dan pro rakyat dengan menghilangkan beberapa beban pajak yang memberatkan. Dia mempersatukan kerajaan Pajajaran dan Galuh dengan perkawinan, bukan penaklukan.
Ketika saya bertanya apa arti kata Sunda, saya pernah mendapat jawaban yg mengagumkan, bahwa, pada awalnya tidak ada Sunda dan Jawa, hingga kemudian segolongan orang yang dihormati karena memegang nilai2x kehormatan dan kejujuran memisahkan diri dan mendapat sebutan Sunda yang artinya "MANUSIA YANG BENAR" (tolong di cek kebenarannya), hingga akhirnya sekelompok orang ini keturunannya kita kenal dengan suku Sunda.
Sedikit cerita lagi tentang kejayaan, Pajajaran dibawah Siliwangi telah memiliki hubungan diplomasi dengan Portugis, bahkan pada perang bubat beberapa kidung mengatakan soal senjata api, dan silahkan anda membaca sejarah tentang Cakra Buana, Syarif Hidayatullah, dan Kian Santang. Walaupun kisah-kisah itu bercampur aduk dengan cerita rakyat, namun kita akan tahu betapa berjayanya dan terhormatnya karuhun Sunda.
Kembali pada saat ini..tentu keadaan kita sudah menyimpang terlalu jauh, ketika Sunda hanya didefinisikan sebagai "tukang kawin", "pemalas", "pecundang", dll. Pada saat yang sama kita sudah kehilangan identitas kita, ketika secara naif masyarakat nasional dan orang Sunda sendiri mendefinisikan dirinya sebagai "Kabayan".
Prabu Lingga Buana mengatakan kata-kata ini kepada Mahapatih Gajahmada sebelum perang Bubat terjadi:
"mangkana rakwa karepmu, pada lan Nusantara dede Sunda iki, durung-durung ngong iki andap ring yuda."
Translate:
"You see us as vassals? We are different, we are Sundanese, and we have never lost a battle."
"Kamu menganggap kita sebagai budak? Kita berbeda(bukan nusantara), kita (orang) Sunda, dan kita tidak pernah kalah dalam pertempuran."
- Prabu Lingga Buana-, berkata kepada gajah mada, dalam Kidung Sunda(ayat 1. 66b – 1. 68 a.), sebelum perang BUBAT dimulai.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar